02
Sep 2015
Perdamaian dan toleransi beragama

 

KOMPAS — Kebutuhan masyarakat terhadap dunia digital dan internet telah mengubah cara hidup serta sudut pandang terhadap tata nilai yang menjadi acuan. Informasi semakin bebas dan mudah didapat, termasuk hal-hal yang terkait agama. Oleh karena itu, perlu sikap arif dalam mencari informasi agama di internet.

 

"Internet bisa menjadi berkah, tetapi berisiko pula menjadi bencana," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutan dalam lokakarya "Pitch for Peace" di Jakarta, Selasa (1/9). Acara ini diselenggarakan The Wahid Institute dan difasilitasi Google Indonesia.

 

Lukman melanjutkan, "Pada hakikatnya, internet merupakan mimbar bebas sehingga kita harus cermat melihat wajah agama di dalam media dalam jaringan (daring) tersebut." Dulu, nilai-nilai hidup bermasyarakat dan beragama diturunkan melalui orangtua dan guru. Mereka bisa memilih dan memilah topik-topik sesuai dengan usia dan daya tangkap anak. Di samping itu, terjadi pula diskusi dalam hal mendalami konteks topik yang disampaikan.

 

"Kini, melalui internet, kita bisa mengakses berbagai informasi tentang agama. Akan tetapi, rujukan bahkan otoritas sumber informasi tersebut tidak diketahui. Lebih penting lagi, ruang untuk berdiskusi dan berdiskursus menjadi langka," ujarnya. Agama bebas diproduksi dan dikonsumsi tanpa ada medium untuk menyaring dan menjelaskan konteks daripada konsep-konsep tersebut.

 

Konten toleran

 

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2014 menyebutkan, di Indonesia terdapat 88 juta pengguna internet, 40 juta di antaranya pengguna aktif. Internet sangat signifikan dalam perolehan informasi dan pembentukan peradaban modern. Karena itu, menurut Lukman, diperlukan penyamaan persepsi, yaitu kebutuhan atas informasi yang menjelaskan dan menyejukkan di internet.

 

Caranya dengan mengajak para pembuat konten internet untuk menyebarkan pesan-pesan yang bersifat persatuan, bukan diskriminatif. "Pada dasarnya, kita tidak dituntut untuk menyeragamkan semua. Yang harus kita lakukan adalah menyikapi keberagaman dengan kearifan," kata Lukman.

 

Yenny Wahid, Direktur The Wahid Institute, mengungkapkan penelitian kecil yang dilakukan lembaganya. Mereka menemukan bahwa sentimen-sentimen yang bersifat intoleran berkembang menjadi ekstremisme dan kemudian menjadi aksi terorisme. Penyebaran informasi terjadi di dunia maya, terutama di media sosial.

 

"Pesan-pesan ekstrem mudah beredar luas di internet. Jadi, kita perlu menghadangnya dengan pengenalan nilai-nilai keagamaan yang positif," ujar Yenny. Ia menambahkan, caranya dengan mengajak masyarakat, terutama generasi muda yang mengenal dunia digital sedari awal (digital native), untuk lebih aktif menyebar pesan toleransi.

 

"Musuh utama kita adalah rasa takut, apatisme, dan cuek. Padahal, ini adalah masalah kita semua," katanya. [*]

 

Dimuat di KOMPAS

2706
 

Add comment


Security code
Refresh