31
May 2013

Jakarta-wahidinstitute.org Dilatarbelakangi  keprihatinan atas kesenjangan di masyarakat Indonesia yang begitu lebar khususnya dalam aspek ekonomi, The Wahid Institute (WI) meluncurkan program microfinance bagi masyarakat perkampungan menengah ke bawah.

 

Bertempat di Aula kantor The Wahid Institute, program ini diresmikan Yenny Wahid, Direktur WI. Program ini diberi nama "Microfinance For Religius and Ethnic Harmony."



Dalam pidatonya Yenny menegaskan perlu adanya program-program ekonomi yang memihak masyarakat kelas bawah, sebagaimana yang pernah di cita-citakan almarhum mantan presiden Abdurrahman Wahid.



Yenny juga menuturkan "microfinance dibentuk untuk memberikan pendampingan masyarakat akan arti pentingnya keberagaman. uniknya lagi adalah anggota microfinance ini terdiri dari berbagai macam agama dan suku mereka kita arahkan untuk membangun hidup yang toleran dimana pada masyarakat kita cenderung lebih memandang perbedaan itu negatif," terangnya, Rabu siang (29/05).



Lanjut Yenny, Sebagaimana namanya Microfinance For Religius and Ethnic Harmony, program ini bertujuan mengembangkan taraf ekonomi kecil masyarakat di wilayah yang berbasis keragaman dalam kelompok  sehingga terbina komunitas yang memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama anggota masyarakat yang berbeda latar belakang agama dan suku serta etnisitasnya demi menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera. diakhir sambutannya mantan presiden Gus Dur ini  juga berharap semoga program microfinance The Wahid Institute mampu memberikan daya manfaat yang besar bagi masyarakat kita.



Program ini merupakan hasil kerjasama Amartha Microfinance yang bertempat di Parung Bagor.  Amartha juga merupakan kelompok microfinance yang telah bejalan kurang lebih 3 tahun. sehingga kita menjalin kerjasama bersama Amartha untuk mewujudkan visi dan misi program microfinance The Wahid Institute" Jelas Visna, selaku Program Officer microfinance The Wahid Institute.



Hadir dalam acara tersebut keluarga besar WI, PT Nusuma, Puan Amal Hayati, Positif Movement serta beberapa jaringan The Wahid Institute (CHO). []

4424
 

Add comment


Security code
Refresh

Terbaru

Is Indonesia winning its fight against Islamic extremism?

  By Mike Thomson, BBC News   Indonesia is the world's most populous Muslim nation, but are its local Islamic traditions in danger of being overtaken by...

Catatan dari Bentrokan di Singkil

  Namanya Rusli (35). Dia merupakan tokoh pemuda di Singkil. Sabtu (10/10/2015) dia menunjukkan sebuah broadcast tentang akan adanya aksi penertiban undung-undung (gereja kecil-red) yang semakin...

Pelatihan HAM dan Hak Kewarganegaraan Sukabumi, Berbagi Pengalaman Bersama Irfan Amali

  Sukabumi--Dalam dunia serba digital, seringkali kemasan gagasan dan gerakan dianggap lebih penting ketimbang isi. Ada banyak gagasan besar dan baik yang...