s (section, id_post, name, email, comment) values ". "('network', '". $_p[id] ."', '". $_p[name] ."', '". $_p[email] ."', '". strip_tags($_p[comment]) ."')"; $r = $this->DB->query ($q); if ($r) redirect ($_p[post_url]); } $this->comment($handler); $handler[data] = $_p; } } ?> Wahid Institute › Jaringan › Ali Maschan Moesa Dikukuhkan Sebagai Gubes IAIN Sunan Ampel

Harlah the Wahid Institute Ke-9 & Orasi Kebangsaan "Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (al-Mustad'afin)" Ir. H. Joko Widodo | Kamis, 26 September 2013, 09.30 - 12.30 WIB | The Wahid Institute Jln. Taman Amir Hamzah, No. 8, Jakarta | Olis (0878.3251.7514): Badrus (0813.1092.8060); Subhi (0815.8770.114); Alam (0815.9819.841)



Jaringan

Jum'at, 13 November 2009 10:35

SURABAYA - Mantan Ketua PW NU Jatim Ali Maschan Moesa dikukuhkan sebagai guru besar (gubes) IAIN Sunan Ampel. Anggota FKB DPR itu menjadi profesor bidang ilmu sosiologi bahasa.

Dalam pengukuhan di Kampus IAIN kemarin (11/11), Ali membawakan orasi ilmiah berjudul Liberalisasi Pemikiran Keagamaan: Realitas Sosial dan Realitas Simbolik dalam Perspektif Sosiologi.

Pengukuhan Ali menjadi guru besar tersebut cukup istimewa. Sebab, sejumlah petinggi hadir. Di antaranya, Menteri Agama Suryadharma Ali, Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, anggota FKB DPR Effendy Choirie, dan Wagub Jatim Saifullah Yusuf. Beberapa anggota DPRD Provinsi Jatim juga terlihat.

Materi pidato Ali banyak mengupas ketimpangan sosial di Indonesia. Mulai zaman penjajahan, Orde Lama, Orde Baru, hingga sekarang. Konsep yang dibangun the founding father dengan istilah negara-bangsa dengan tujuan mewujudkan kemakmuran bagi rakyat ternyata belum terwujud. Kekerasan, ketimpangan, ketidakadilan, dan penindasan masih juga terjadi.

Menurut Ali, hal itulah yang kemudian mendorong lahirnya gerakan fundamentalisme agama. Sebagai makhluk beragama, manusia tidak bisa menghindari benturan karena perubahan sosial. Manusia harus menghadapi dilema-dilema tersebut. ''Itu sebuah kenyataan yang harus dihadapi,'' ujarnya.

Jika bersikap eksklusif, lanjut dia, seseorang justru akan terpencil dari pergaulan sosial. Bahkan bisa dituduh sebagai kaum ortodoks atau kelompok yang kurang fleksibel dalam memosisikan ajaran agama dalam masa kini.

Dialektika antara agama dan realitas sosial itu akan selalu terjadi dan menarik dicermati. ''Sebab, keduanya selalu berkaitan satu sama lain,'' jelas pria yang meraih gelar doktor di Universitas Airlangga tersebut.

Rektor IAIN Sunan Ampel Prof Dr Nur Syam menyatakan, Ali Maschan dikukuhan sebagai guru besar ke-39. Dia berharap pemikiran Ali makin banyak berdampak postif pada perkembangan pendidikan dan agama. 

Sumber: Jawapos, Kamis, 12 November 2009
Foto: Inilah.com