s (section, id_post, name, email, comment) values ". "('network', '". $_p[id] ."', '". $_p[name] ."', '". $_p[email] ."', '". strip_tags($_p[comment]) ."')"; $r = $this->DB->query ($q); if ($r) redirect ($_p[post_url]); } $this->comment($handler); $handler[data] = $_p; } } ?> Wahid Institute › Jaringan › Abd Moqsith Ghazali Pluralitas Umat Beragama Adalah Fakta

Harlah the Wahid Institute Ke-9 & Orasi Kebangsaan "Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (al-Mustad'afin)" Ir. H. Joko Widodo | Kamis, 26 September 2013, 09.30 - 12.30 WIB | The Wahid Institute Jln. Taman Amir Hamzah, No. 8, Jakarta | Olis (0878.3251.7514): Badrus (0813.1092.8060); Subhi (0815.8770.114); Alam (0815.9819.841)



Jaringan

Rabu, 16 Januari 2008 12:18
Untitled Document

 

Pluralitas umat beragama adalah fakta. Dalam menyikapi pluralitas umat beragama tersebut, bisa dikatakan Al-Qur'an adalah kitab suci yang memandang umat agama lain secara positif. Terhadap Ahli Kitab, umat Islam diperintahkan untuk mencari titik temu. Kalau terjadi perselisihan antara umat Islam dan umat agama lain, umat Islam dianjurkan untuk menempuh cara dialog.

Moqsith

Pernyataan di atas merupakan penggalan intisari disertasi Abd Moqsith Ghazali (36). Disertasi berjudul Pluralitas Umat Beragama dalam Kitab Alquran: Kajian terhadap Ayat-ayat Pluralis dan Tak Pluralis itu dipertahankannya di hadapan dewan penguji pada 13 Desember lalu, di Auditorium Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Moqsith dinyatakan lulus dengan memuaskan.

Di kalangan komunitas yang aktif dalam kerja sama lintas agama, nama Moqsith tidak asing lagi. Ia adalah koordinator program Islam dan Pluralisme Wahid Institute. Ia juga aktif di The Religious Reform Project (RePro) Jakarta serta di Jaringan Islam Liberal. "Saya tertarik kepada Wahid Institute, karena lembaga ini konsisten memperjuangkan tegaknya pluralisme dan demokrasi di Indonesia," katanya.

Jadi, tak mengherankan, buah pemikiran dan lingkup kerjanya tak jauh dari keberadaan keberagaman di negeri ini. Al-Qur'an, berdasarkan intisari disertasinya, mengizinkan sekiranya umat Islam hendak bergaul dengan Ahli Kitab. Ia mencontohkan, ketika Nabi Muhammad SAW ragu tentang sebuah wahyu, Al-Qur'an memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bertanya kepada orang-orang yang sudah membaca kitab-kitab sebelum Al-Qur'an. Sebab, di dalam kitab-kitab suci itu, ada prinsip-prinsip dasar yang merekatkan seluruh ajaran para nabi.

Al-Qur'an tak menganggap ajaran agama sebelum Islam sebagai ancaman. Itulah sikap teologis Al-Qur'an dalam merespons pluralitas umat beragama. Sementara sikap sosial-politisnya berjalan secara dinamis dan fluktuatif. Adakalanya tampak mesra. Misalnya, ketika Romawi yang Kristen kalah perang melawan Persia, umat Islam ikut bersedih. Beberapa ayat Al-Qur'an (al-Rum [30]: 1-3) turun untuk menghibur kesedihan umat Islam tersebut. Saat umat Islam terancam di Mekkah, yang memberikan perlindungan adalah orang-orang Kristen Habasyah. Sebuah ayat Al-Qur'an turun memberikan pujian kepada orang orang-orang Nashrani Habasyah. Ketika pertama kali sampai ke Madinah, umat Islam bersama-sama dengan kaum Yahudi dan Musyrik Madinah membuat traktat politik, Piagam Madinah. Sejarah pun membuktikan, Islam pernah berkolaborasi dengan umat Yahudi dalam menaklukkan Kota Andalus.

Di kala lain, hubungan itu tegang bahkan keras. Islam berkonflik dengan Yahudi. Peperangan pada zaman Nabi lebih dipicu karena persoalan ekonomi-politik daripada soal agama atau keyakinan. Ini bisa dimaklumi karena Al-Qur'an sejak awal mendorong terwujudnya kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Fakta
Pluralitas menjadi perhatian utama dalam disertasi Moqsith karena pluralitas umat beragama adalah fakta. Dari sudut keberagamaan, sekarang makin sulit mencari masyarakat negara yang dalam penganutan agamanya tunggal. Bahkan, kalau ada masyarakat negara yang hanya menganut satu agama, pluralitas pun bisa terjadi pada level penafsiran. Pluralitas pada wilayah tafsir itu pada gilirannya akan juga melahirkan pluralitas pada level aktualisasi dan pelembagaannya. Maka muncullah mazhab-mazhab pemikiran, pelbagai institusi, dan ormas keislaman.

"Dalam menghadapi dan menanggapi kenyataan pluralitas umat beragama, umat Islam tak monolitik. Masing-masing menempuh cara dan tanggapan berbeda-beda. Ada kelompok yang coba mengingkari pluralitas, di samping kelompok ulama yang menerima dan merayakannya sebagai sunnatullah. Dari sini muncul tiga paradigma, yaitu: eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme," katanya.

Perhatian Moqsith terhadap kenyataan keberagaman di Indonesia bukan muncul dalam hitungan hari. Sejak lama ia menggelutinya.Bahkan anak pertama dari lima bersaudara pasangan KH A Ghazali Ahmadi dan Hj Siti Luthfiyah itu, sudah punya kebiasaan "mencuri-curi" membaca Injil ketika belajar di sejumlah pesantren di Jawa Timur. Pengalaman itu disebutnya sebagai kenangan tak terlupakan.

Keinginan untuk menggali ilmu lebih dalam mengantarnya belajar di UIN (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Di situ ia menyelesaikan program S2-nya pada 1999. Sebelum menyelesaikan pendidikan S3-nya, pada 2002 ia berkesempatan sebulan mengikuti dialog agama-agama di Amerika Serikat. Pada 2005, ia mengikuti kuliah pendek di Universitas Leiden Belanda.

Di Leiden pula ia mendapatkan pengalaman penelitian sangat mengesankan, "Ketika saya meriset pernikahan beda agama di Universitas Leiden Belanda, saya menemukan data yang tak mudah dijumpai di Indonesia. Saya membongkar sejumlah arsip dan data di sana," katanya.

Buah pikiran tentang keberagaman itu tampak dalam tulisan-tulisan yang dikirimkan ke berbagai media massa.

Moqsith, kelahiran Situbondo, 7 Juni 1971, aktif menulis di berbagai koran dan majalah, seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Indo Pos, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Kompas, dan Duta Masyarakat. Selain ikut mengasuh Jurnal Tashwirul Afkar PP Lakpesdam NU Jakarta dan menjadi konsultan fikih Majalah Syir'ah Jakarta, tulisan-tulisannya juga muncul di jurnal-jurnal seperti Jurnal Dialog Litbang Depag RI, Jurnal Jauhar Pascasarjana UIN Jakarta, Jurnal Khas Tasawuf Jakarta, hingga Jurnal PenuntunGereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jawa Barat.

Beberapa buku juga memuat karya ilmiahnya, di antaranya, Islam, Negara dan Civil Society (Jakarta: Paramadina, 2005), Bincang tentang Agama di Udara, Fundamentalisme, Pluralisme dan Peran Publik Agama (Jakarta: MADIA, 2005), Kala Fatwa Jadi Penjara (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), DawrahFiqh Perempuan: ModulKursus Islam dan Gender (Cirebon: Fahmina Institute, 2006), Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara (Bandung: Mizan, 2006).

Anggota Dewan Pengasuh PP Zainul Huda Arjasa Sumenep Madura itu juga terlibat dalam penyuntingan beberapa buku. Di antaranya, Geger di Republik NU (Jakarta: Kompas, 1999), Dinamika NU: Dari Muktamar ke Muktamar (Jakarta: Kompas, 1999), Ijtihad Islam Liberal ( Jakarta: JIL, 2005), dan Menjadi Muslim Liberal ( Jakarta: JIL-Freedom Institute 2005).

Di atas segala macam kesibukannya itu, Moqsith, ayah dua anak, Faaza Dildari Farzanggi (Anggie, 6) dan Alviss Davie Hunafa (Davie, 1,5), buah kasihnya dengan Siti Soleha Razak, SPdI itu, tak lupa mengamalkan ilmunya. Ia menjadi dosen UIN Jakarta Jurusan Falsafah dan Agama juga di Universitas Paramadina Jakarta. Pada rentang 2003 - 2005, ia tercatat menjadi dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta. "Sejak 2005 hingga sekarang, saya kerap menguji tesis magister di Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta," ujarnya.

Penuh rasa syukur ia mengatakan, di sela-sela kesibukan yang menggunung itu, pada 2006 ia mampu menerbitkan buku Fiqh Anti Trafiking: Jawaban atas Berbagai Kasus Kejahatan Perdagangan Manusia dalam Perspektif Hukum Islam (Cirebon: Fahmina Institute). Satu bukunya, Fikih Progresif Menjawab Masalah Aktual-Kontemporer, saat ini sedang dalam proses cetak. [SP/Sotyati]

(Suara Pembaruan, Selasa 15 Januari 2008)