Harlah the Wahid Institute Ke-9 & Orasi Kebangsaan "Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (al-Mustad'afin)" Ir. H. Joko Widodo | Kamis, 26 September 2013, 09.30 - 12.30 WIB | The Wahid Institute Jln. Taman Amir Hamzah, No. 8, Jakarta | Olis (0878.3251.7514): Badrus (0813.1092.8060); Subhi (0815.8770.114); Alam (0815.9819.841)



Dokumen

Minggu, 5 Mei 2013 10:14
Jakarta (5/5). Negara kembali kalah oleh aksi premanisme berbaju agama. Sebanyak 24 bangunan milik jemaah Ahmadiyah di Kampung Wanasigra, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, rusak di serang massa intoleran Ahad dinihari (5/5), pukul 01.30 WIB. Selain di Salawu, Sebuah masjid jemaah Ahmadiyah di Kampung Babakan Sindang, Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, juga dibakar sekitar pukul 03.30 WIB. Sebulan sebelumnya  ratusan orang dari salah satu ormas menyerbu Pondok Pesantren Al-Idrisiyah di Kampung Pagendingan, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (7/4) malam. Mereka merusak madrasah, rumah, dan mini market di lingkungan ponpes. Menyikapi peristiwa serangan ini, the Wahid Institute menyatakan sikap sebagai berikut:
  1. Serangan Minggu dini hari itu (5/5) jelas serangan atas kewibawaan hukum di negeri ini. Karenanya, pemerintah pusat tak bisa abai dan diam. Kejadian ini bukan kali pertama dan kemungkinan besar masih akan terjadi, apalagi jika pemerintah dan aparat, pusat dan daerah, menganggapnya sebagai perkara biasa mengingat kasus-kasus tersebut seringkali terjadi di sejumlah tempat. Kalau pemerintah dan aparat hukum seringkali gagal mencegah kekerasan, kini saatnya membuktikan mereka mampu melakukan tindakan hukum terhadap pelaku kekerasan.
  2. Khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum, dan aparat keamanan pusat dan daerah, didesak menyatakan sikap perang melawan tindakan teror oleh kelompok apapun dan atas nama apapun. Sekali lagi serangan ini mencoreng citra Indonesia yang dianggap moderat dan meledak justru di tengah rencana penghargaan Appeal of Conscience, lembaga berbasis di Amerika yang mengklaim berjuang untuk kebebasan beragama dan hak asasi manusia untuk Presiden SBY sebagai negarawan dunia.
  3. Kami mengapresiasi tindakan aparat kepolisian yang berhasil melindungi jemaat Ahmadiyah upaya intimidasi dan pembubaran oleh massa beratribut Front Pembela Islam (FPI) sehari sebelum peristiwa. Namun begitu kami juga prihatin kepolisian belum bekerja maksimal untuk melindungi keamanan jemaat Ahmadiyah pada malam terjadinya penyerangan. Menurut informasi yang kami terima, malam itu massa mulai berkumpul sejak pukul 23.00 WIB. Aparat yang berjaga di lokasi ketika terjadi serangan pukul 01.00 WIB tak seimbang.
  4. Pejabat pemerintah dan pihak-pihak yang selama ini cenderung tak berpihak pada hak-hak korban dan perlindungan sebagai warga Negara seharusnya berpikir ulang bahwa serangan-serangan ini adalah buah dari serangkaian tindakan diskriminasi, intoleransi, pembiaran, bahkan pelanggaran nyata atas mereka. Dan salah satu cara mengatasi aksi-aksi kekerasan ini adalah bahwa setiap masyarakat mulai menghentikan tindakan penyesatan, menyebar informasi yang tak benar, sebaliknya mengedepankan dialog yang terbuka.

Jakarta, 5 Mei 2013

Yenny Wahid
Direktur The Wahid Insitute