Harlah the Wahid Institute Ke-9 & Orasi Kebangsaan "Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (al-Mustad'afin)" Ir. H. Joko Widodo | Kamis, 26 September 2013, 09.30 - 12.30 WIB | The Wahid Institute Jln. Taman Amir Hamzah, No. 8, Jakarta | Olis (0878.3251.7514): Badrus (0813.1092.8060); Subhi (0815.8770.114); Alam (0815.9819.841)



Berita

Senin, 20 Mei 2013 01:30
Kelas Pemikiran Gus Dur

Prinsip-prinsip Pemikiran Gus Dur

Prinsip-prinsip pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berangkat dari hubungan dialektis antara universalisme Islam dan kosmopolitanisme Islam. Universalisme Islam ialah penghargaan Islam atas kemanusiaan. Penghargaan ini tercermin di dalam perlindungan atas hak-hak dasar manusia (al-kulliyat al-khamsah), meliputi; hak hidup (hifdz al-nafs), hak beragama (hifdz al-din), hak kepemilikan (hifdz al-maal), hak keturunan (hifdz al-nasl), dan hak profesi (hifdz al-‘irdl). Dengan menjadikan perlindungan hak asasiah sebagai universalisme Islam, Gus Dur telah menempatkan kemanusiaan sebagai nilai yang paling universal di dalam Islam.

Untuk mewujudkan universalisme ini, Islam perlu membuka dirinya kepada peradaban lain. Keterbukaan inilah yang disebut Gus Dur, kosmopolitanisme peradaban Islam. Watak kosmopolitan ini sudah dimiliki Islam sehingga ia bisa bertemu dengan peradaban lain, sejak Hellenisme, mistik India hingga kemodernan Eropa. Dengan demikian, kosmopolitan atau kemodernan Islam menjadi syarat bagi terwujudnya universalisme Islam. Sementara keterbukaan tersebut dilakukan demi tegaknya nilai-nilai universal Islam.

Dari hubungan antara "yang universal" dan "yang kosmopolitan" di dalam Islam ini, Gus Dur kemudian merumuskan pandangan-dunia (Weltanschauung) Islam. Pandangan-dunia ini berangkat dari tiga nilai; syura (demokrasi), ‘adalah (keadilan) dan musawah (persamaan). Maka pada level praktis, demokrasi, keadilan sosial dan persamaan di hadapan hukum merupakan kondisi yang dibutuhkan demi tegaknya universalisme Islam. Oleh karena itu, segenap perjuangan Gus Dur, sejak demokratisasi, perlindungan atas minoritas, penghargaan atas pluralitas, pembaruan Islam hingga politik praktis berputar di tiga nilai di atas, yang diterangi oleh dialektika universalisme dan kosmopolitanisme Islam.

Demikian prinsip-prinsip pemikiran Gus Dur yang dipaparkan oleh Syaiful Arif, di Kelas Pemikiran Gus Dur pertemuan kedua (15/5) kemarin. Prinsip-prinsip pemikiran ini didasarkan pada tulisan Gus Dur, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam (1987). Menurut Arif, tulisan ini menyajikan prinsip dasar pemikiran Gus Dur, tentu didukung tulisan-tulisan Gus Dur lainnya. Dari prinsip pemikiran ini, lahirlah cabang-cabang pemikiran Gus Dur yang saling membentuk kesatuan. Misalnya, kesatuan pemikiran Islam yang meliputi; pribumisasi Islam sebagai "basis-struktur", etika sosial Islam sebagai "struktur" dan "negara kesejahteraan" Islam sebagai "supra-struktur". Artinya, tanpa pribumisasi Islam, Islam tidak akan menjadi etika sosial yang menopang bangunan kenegaraan "etika Islam". Hal ini berbanding terbalik dengan puritanisme (budaya) Islam yang menempatkan Islam sebagai ideologi dan menopang formalisme negara Islam. Pemikiran politik Islam Gus Dur mengarah pada konsepsi "negara kesejahteraan" perspektif Islam. Hal ini lahir dari penempatan Islam sebagai etika sosial, bukan ideologi politik. Demikian tegas aktivis the Wahid Institute ini.

Kelas Pemikiran Gus Dur sesi kedua ini dihadiri oleh para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) meliputi; Komisariat PMII Universitas Islam al-Syafi'iyyah, Komisariat Ushuluddin dan FISIP UIN Jakarta, Komisariat Unindra Jakarta, Komisariat Universitas Jagakarsa, Komisariat Universitas Bung Karno dan Komisariat YAI.

Sebelum pemaparan materi, dua peserta dari Ushuludin UIN Jakarta, Hairus Saleh dan Helmy Hidayatullah diberi waktu untuk mempresentasikan hasil bacaannya atas tulisan Gus Dur, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Islam. Hairus menyoroti batas-batas persamaan hak yang dilindungi oleh Islam, sementara Helmy mengelaborasi pluralisme Gus Dur di dalam prinsip universal Islam tersebut. Dengan memberi kesempatan bagi peserta untuk presentasi, setiap peserta akan merasa memiliki kelas ini. Demikian jelas Arif (SA). []