Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Program

Rabu, 28 Maret 2012 12:11
Kelas entrepreneurship Gusdurian Jakarta

Tommy Andri Wardhana, Tak "Kerasan" di Zona Aman

Inilah yang mendorongnya ngotot mendirikan perusahaan sendiri. Ia mengukur, dirinya mampu menciptakan marketing yang luar biasa.

Jakarta-wahidinstitute.org. Dengan karirnya saat itu, Tommy Andi Wardhana terbilang sosok yang mapan. Jabatan yang dipegang terakhir sebagai komisaris di sebuah perusahaan ternama. Sebelumnya ia pernah memegang posisi penting mulai dari asisten manager, manager, hingga direktur. Jabatan terakhir itu dipegangnya dua kali. "Rasanya nyaman. Tak banyak kerja dan semua fasilitas ada" kata Tommy, sapaan akrabnya, kepada puluhan peserta Kelas entrepreneurship Gusdurian Jakarta Kelima di Jakarta, Senin (26/3). Malam itu tema yang diangkat seputar tren bisnis 2012 yang di antaranya perkembangan pesat industri kreatif, jasa, dan internet.

Berada di zona aman diakui Tommy tak membuatnya lantas "kerasan". Ingin sekali ia membangun usaha sendiri dan itu artinya meninggalkan profesi yang dijalaninya.  Niat berhenti sebagi komisaris dan memilih usaha baru sebetulnya sudah muncul lama. Niat yang juga didiskusikan dengan sang isteri itu baru terwujud tahun 2010.

Tak mudah. Itu yang Tomy rasakan ketika memilih berhenti sebagai komisaris. Untuk beberapa bulan pertama, ia tak lagi menerima gaji seperti sebelumnya, justru memikirkan gaji untuk karyawannya. Namun pengalaman itu membuatnya yakin, hasil usaha yang dilakukannya secara mandiri justru sebuah kenikmatan luar biasa. Hasilnya untuk perusahaanya sendiri, bukan orang lain.

Ketika ia bergabung dalam sebuah perusahaan ritel yang kini hadir sebagai perusahaan ritel ternama di Tanah Air, ia diberi tugas mencapai target yang tak mudah, yang dipatok perusahaan. Pertama kali bergabung, toko yang didirikan baru berjumlah sembilan toko. Di tahun pertama, perusahaan sudah mamatok angka 3000 toko, tahun kedua naik dua kali lipat sebanyak 6000 toko. "Sakit sudah langganan, tipes, sakit perut menjadi hal yang biasa," kata Tommy bersemangat.

Di sini, terang Tommy, seseorang yang ingin sukses selalu dituntut bekerja keras mencapai target. Jika dilihat hasilnya, target itu bisa dikatakan tercapai. Tapi ya itu tadi, kerja keras itu bukan untuk perusahaanya sendiri, melainkan perusahaan orang lain. Inilah yang mendorongnya ngotot mendirikan perusahaan sendiri. Ia mengukur, dirinya mampu menciptakan marketing yang luar biasa.

Ia juga berkisah, sopir pribadinya berhasil ia dorong berwirausaha dan keluar dari pekerjaan sebagai sopir. Ia tak mau sopirnya itu bekerja menjadi sopir sepanjang hidupnya. Ia ingin supir ini berubah dan mendapat penghasilan lebih. Untuk membantu sang sopir berwirausaha, ia mengajaknya pulang ke kampung halaman si sopir di Cilacap, Jawa Tengah dan melihat potensi yang bisa di garap. Di sana, akhirnya ditemukan potensi itu: pabrik gula merah.

"Kamu suka jualan?," tanya Tomy
"Suka," jawab sopir
"Punya kenalan penjual cendol?"
 "Punya"

Setelah percakapan singkat itu, Tommy langsung menyarankannya berdagang gula merah. Ia melihat bisnis gula merah sangat prospek. Saran itu diamini sang sopir. Keluarganya disuruh membuat gula.

Tommy juga memberi beberapa kiat yang perlu diperhatikan. Pertama, tempat membuat gula harus bersih dan jauh dari kandang ternak. Kedua, soal pengemasan. Biasanya, terang Tommy, orang desa tak terpikirkan bagaimana model pengemasanya. Biasanya, pengemasan gula merah hanya ditumpuk. Tommy justru menyarankan, sebaiknya saat ditumpuk dilapisi karton agar terlihat rapi dan bersih.  

Dari kisah itu, Tommy lalu berbagi kiat dalam memulai usaha kepada peserta yang hadir. Pertama, dalam berbisnis harus ada dorongan dari dirinya sendiri, jangan dorongan dari orang lain. Kedua, melihat potensi diri kira-kira skil yang dipunyai. Ketiga, melihat dan mengamati lingkungan sekitar, potensi apa yang dapat dikerjakan untuk berwirausaha. Keempat, proses lantaran bisnis penuh kompetisi dan kalau tak menyelami prosesnya maka akan dipermainkan kompetitor. Kelima, diversifikasi fokus. Harus ada perubahan yang inovatif, yang menjadikan bisnis itu terasa baru terus. Keenam, berbagi dengan orang lain meskipun sedikit. "Dengan berbagi maka Allah akan memberimu lebih, dan disinilah perbedaan ekonomi kapitalis dan ekonomi yang dijelaskan dalam al-Qur'an" tambahnya.

Selain itu, jika anda ingin memilih berwirausaha, maka ada tren-tren yang bisa diikuti, yaitu pendidikan, makanan (susu, telor, roti, gula jawa), dan gaya hidup. Ketiga inilah yang setiap tahun menurutnya terus meningkat. Misalnya saja gaya hidup. Sekarang ini laki-laki sudah mulai banyak yang pergi ke salon, membeli parfume dan lain-lain. "Yang paling penting dalam berbisnis adalah amanah atau dapat dipercaya" pungkasnya[].

Penulis : Masykur
Editor: Alamsyah M. Dja'far