Pembukaan Kelas Pemikiran Gus Dur | The Wahid Institute-PB PMII | Jumat 10 Mei 2013 | pkl 14.00-17.00 | Narsum; Dr. Rumadi & Syaiful Arif



Opini

Selasa, 10 Juli 2012 03:16

Ahmad Najib Burhani*

Juli dan Agustus 2012 ini, Kang Moeslim Abdurrahman (wafat, 6 Juli 2012) berencana mengumpulkan anak-anak didiknya yang selama beberapa tahun terakhir berdiaspora ke berbagai negara untuk menuntut ilmu. Mereka ini adalah anak-anak muda Muhammadiyah yang pada tahun 2002-2006 lalu dia kumpulkan dan bina dalam wadah JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Berkat motivasi dan bimbingannya, mereka bisa pergi ke Amerika, Eropa, dan Australia untuk mengambil program master atau doktor. Diantara mereka yang kini telah selesai atau hampir selesai adalah Tuti Alawiyah (PhD, Univ. Texas-Austin), Hilman Latief (PhD, Univ. Utrecht), Alpha Amirrachman (PhD, Univ. Amsterdam), Ai Fatima (PhD, Univ. Leeds), Nur Hidayah (PhD, Univ. Melbourne), Boy Pradana (PhD, NUS), Andar Nubowo (PhD, Sorbonne), dan saya sendiri (PhD, Univ. California-Santa Barbara).

Tahun ini, ketika murid-murid Kang Moeslim pulang kembali ke Indonesia, berniat bertemu dengannya, dan menghidupkan jaringan yang dulu dibangun, rupanya Kang Moeslim meninggalkan kita semua untuk menghadap sang Ilahi. Barangkali tugas Kang Moeslim sebagai orang tua dan pemberi motivasi memang sudah selesai. Anak-anaknya sudah selesai menempuh jenjang tertinggi pendidikan, sudah dewasa dan mandiri. Namun kami sebagai anak-anaknya justru ingin bertemu dengannya sebagai bentuk terima kasih atas didikannya. Tapi rupanya Kang Moeslim tidak mau menerima ungkapan syukur kami. Dia meninggalkan kami sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih dan membalas jasa-jasanya.

Kang Moeslim dan Orang Pinggiran

Selama empat tahun dalam bimbingan dan didikan Kang Moeslim, banyak hal yang telah dia ajarkan ke kita. Diantaranya adalah tentang tiga prinsip yang harus kita pegang dan lakukan dalam mereformasi Muhammadiyah, mengubah organisasi ini dari kebekuan dan sifat konservatif-nya. Tiga hal itu adalah hermeneutika, teori sosial, dan new social movement. Berbulan-bulan kita digembleng untuk memahami dan membumikan ketiganya dalam tubuh Muhammadiyah. Tiga pilar ini juga menjadi tumpuan paradigma gerakan JIMM sehingga ada tujuan yang jelas dan terarah.

Hal lain yang Kang Moeslim wariskan ke anak-anak Muhammadiyah, dan organisasi Muhammadiyah secara umum, adalah pengembangan ‘dakwah kultural' dan kepedulian atau advokasi kepada buruh, tani, dan nelayan. Dua bidang ini adalah wilayah yang tak banyak disentuh oleh Muhammadiyah sebelum Kang Moeslim hadir kembali ke organisasi yang berdiri 1912 ini. Muhammadiyah terlihat sebagai organisasi puritan yang tak bersahabat dengan kultur lokal di Indonesia, seperti seni/tarian tradisional dan adat-istiadat. Kang Moeslim mengajak kita semua mengapresiasi kultur lokal dan merangkulnya sebagai bagian dari Muhammadiyah.

Demikian pula dengan buruh, tani, dan nelayan. Kang Moeslim terus mengingatkan dan mengajak anak-anak Muhammadiyah bahwa doktrin al-Ma`un (Q. 107:1-7) yang ditanamkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, adalah ditujukan untuk membebaskan orang-orang tertindas, baik secara kultural maupun struktural, seperti buruh, tani, nelayan, dan juga para pekerja seks. Semangat dan misi ini selama ini terkesan telah diabaikan oleh Muhammadiyah. Selama membimbing kami, Kang Moeslim terus-menerus menyadarkan kami akan misi kenabian ini.

Agama Minoritas dan Tertindas

Tentu tak semua pesan dan nasehat mulia Kang Moeslim bisa kita lanjutkan dan wujudkan. Saya pribadi hanya bisa menekuni satu pesan Kang Moeslim, yaitu membela, dalam konteks akademik, nasib dan hak-hak kelompok agama minoritas. Inilah salah satu alasan mengapa saya mengambil program doktor dengan keahlian tentang agama-agama minoritas pecahan dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha'i, Isma'ili, Yazidi, dan Druze. Nasib, hak, dan posisi mereka dalam masyarakat Muslim belakangan ini sangat memprihatinkan.

Ahmadiyah di Indonesia, misalnya, menjadi kelompok keagamaan yang paling mengalami persekusi. Menurut Setara Institute (2008), dari 265 kasus intoleransi keagamaan di tahun 2008, 193 kasus (73%) berkaitan dengan Ahmadiyah. Tren ini berlangsung terus sampai sekarang. Nasib orang-orang Ahmadi ini bahkan lebih buruk dari non-Muslim secara keseluruhan.

Di negeri ini, tak banyak sarjana yang menekuni secara akademik persoalan teologi agama-agama minoritas pecahan dari Islam itu dan kemudian melakukan pembelaan secara akademik terhadap hak-hak mereka. Mengikuti kepedulian Kang Moeslim terhadap kelompok lemah dan tertindas, saya memilih bidang ini sebagai karir akademik dan sosial. Selamat jalan Kang Moeslim dan terima kasih atas segala bimbingannya. Semoga engkau damai di sisi-Nya. Amin.

*Kandidat doktor di Universitas California-Santa Barbara dan peneliti LIPI.

Sumber: Kompas, Senin, 09 Juli 2012