Panggulan Menonton | Nobar Film Habibi & Ainun serta Mata Tertutup; Pembacaan Puisi; Musik Akustik, dan Pembagian Doorprize | Rabu, 19 Juni 2013, pukul 19.00 – Selesai | Jl. Subulussalam No. 34 RT 01/04 Panggulan, Pengasinan Kecamatan Sawangan Depok | Kontak (021) 9126 5558 Nurdin 08788188499



Opini

Senin, 23 November 2009 11:06
oleh Susanne Schanda*

CAIRO – Semuanya diawali oleh terbitnya The Yacoubian Building. Buku karya Alaa al-Aswani yang terbit tahun 2001 ini menandai permulaan naiknya trend membaca di Mesir. Buku ini bahkan masuk dalam daftar best-seller buku-buku Arab selama dua tahun.

Baru setelah kesuksesan ini sang pengarang bisa menerbitkan karya yang pernah ia tulis pada 1990 namun ditolak oleh Organisasi Buku Mesir, organisasi miliki pemerintah yang mencetak, menerbitkan dan menjual buku-buku Mesir di pasar lokal, regional maupun internasional, untuk diterbitkan.

Berbicara di Kairo, sang pengarang mengatakan bahwa menerbitkan buku di Mesir pada saat ini jauh lebih mudah dibanding sepuluh tahun lalu. “Kita mengalami krisis membaca di Mesir pada 1990-an. Hampir tak ada orang yang membaca fiksi, ujarnya. “Hingga, penerbit-penerbit swasta enggan menerima karya dari penulis, karenanya saya pun membawa karya saya ke penerbit milik Negara meski tetap saja gagal.”

Al-Aswani, yang masih bekerja sebagai dokter gigi meski telah sukses sebagai penulis dan memberikan wawancara di ruang praktiknya setiap hari Jumat, menunjukkan sebuah toko buku yang baru dibuka di seberang jalan tempat praktiknya.

“Toko itu nampaknya untung banyak. Tapi dulu, tahun 1990-an, siapapun yang ingin membuka toko buku di sini tampaknya hanya akan menghanyutkan uangnya di sungai Nil. Sekarang, nampaknya bergerak dalam bisnis ini cukup menguntungkan dan itu artinya banyak orang yang mulai membaca lagi.

Banyak toko buku yang muncul pada beberapa tahun belakangan ini. Ini menunjukkan bahwa memang ada pasar yang tengah berkembang untuk buku disini. Tulisan "Al-Kotob Khan" (Pasar Buku) terpasang elegan di pintu sebuah toko buku di Maadi, sebuah kawasan di tengah kota Kairo yang menjadi tempat tinggal bagi kalangan terpelajar dan menengah atas. Di samping pintu depan toko itu ada dua daftar buku best seller : daftar buku-buku best-seller berbahasa Arab dan daftar buku-buku best-seller berbahasa Inggris.

Di urutan pertama buku best-seller berbahasa Arab adalah novel karya pengarang Mesir Jussuf Ziedan Azazeel yang mendapatkan penghargaan buku terbaik berbahasa Arab (Arabic Booker Prize). Sementara di daftar best-seller berbahasa Inggris, yang menempati urutan pertama adalah kumpulan puisi berjudul Tannoura karya pengarang muda Mesir Samar Ali, baru kemudian buku Paulo Coelho, Khaled Hosseini dan juga buku Barack Obama yang berjudul Change We Can Believe In.

Samar Ali yang berusia 27 tahun juga berprofesi sebagai dokter gigi. Ia menulis puisi dalam bahasa Inggris dan cerita pendek dalam bahasa Arab. Kumpulan puisinya diterbitkan oleh penerbit baru bernama Malamih yang memang fokus menerbitkan komik dan literatur yang inovatif karya para penulis muda di Mesir baik dalam bahasa Arab dan Inggris.

“Saya tumbuh di Madrid, and kelas-kelas perkuliahan saya dalam bahasa Inggris sehingga saya pun bilingual”, tutur Samar Ali di Café Boursa, di tengak kota Kairo. Ali sering datang ke tempat ini dengan para penulis muda lainnya serta Sahar el-Mougy, penulis terkenal dan juga professor, untuk nongkrong setelah mengikuti sesi penulisan kreatif.

El-Mougy sepakat bahwa panggung literature di Mesir tengah marak kembali dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurutnya, ini terjadi sedikitnya karena ada kebebasan yang diberikan Negara kepada para penulis. Meski para penulis juga faham bahwa: “pemerintah menggunakan kami untuk menunjukkan betapa liberalnya mereka,”. “Ketika kami mulai mengkritik mereka, kebebasan itu pasti akan hilang”, ujarnya lagi.

El-Mougy menjadi panutan bagi banyak mahasiswa dan penulis muda perempuan. Dia menulis isu-isu politik dan sosial dalam kolom khusus di koran independen Almasry Alyoum dan dalam novel terbarunya Noon (huruf Nun dalam bahasa Arab), ia berargumen tentang pentingnya kebebasan spiritual, juga kebebasan seksual, bagi perempuan.

Sudah sekian lama membaca dianggap sebagai kebiasaan kuno para intelektual, professor dan kritikus sastra. Hanya sedikit orang yang membaca karena keingintahuan atau untuk kesenangan. Tapi sekarang, literatur sastra merambah berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya kalangan elit.

Dalam pandangan penulis dan pengusaha penerbitan, Mekkawi Said, internet dan blog berperan besar dalam meningkatkan pesona literatur ini. Novel Said, Cairo Swan Song, yang baru saja diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, menyebabkan efek domino dalam dunia sastra ketika pertama kali muncul pada tahun 2007.

“Sejumlah blogger berbicara mengenai buku ini dan merekomendasikannya. Promosi yang intensif melalui internet ini akhirnya membuat buku ini menjadi salah satu karya yang dinominasikan untuk mendapatkan Penghargaan buku Terbaik berbahasa Arab tahun lalu. Setelah beredar di blog, barulah kritikus sastra yang berafiliasi dengan koran menulis tentang buku ini, ujar Said.

Novel ini sudah terjual sebanyak 50.000 buah. Cukup banyak bila kita mengingat bahwa satu judul buku dalam bahasa Arab biasanya dicetak higga sekitar 3.000 sampai 5.000 buah.

Tapi tak hanya blogger yang menumbuhkan budaya membaca di dunia Arab. Meningkatnya popularitas toko buku juga berperan besar karena mereka melayani semua jenis orang. Toko “Pasar Buku” yang buka tiga tahun lalu di Maadi, menjadi penerbit sekaligus pusat kebudayaan. Pemiliknya Karam Youssef mengatakan bahwa meski lokasi tokonya berada di luar kota, ia tak melihat itu sebagai masalah besar. “Kutu buku akan pergi ke mana pun untuk menemukan buku yang mereka inginkan”, ujarnya.

Tapi Diwan, toko buku yang sudah popular, tak ingin melakukan hal yang sama. Selain toko pusatnya yang banyak dikunjungi di daerah Zamalek, Diwan juga membuka toko-toko cabang di empat daerah lainnya di Kairo. Dengan cara itu mereka ingin memastikan kebutuhan pembaca di ibu kota Mesir terpenuhi.


###

* Susanne Schanda adalah wartawan lepas. Versi singkat artikel ini diterjemahkan dari bahasa Jerman dan disebarkan oleh Kantor Berita Common Ground seizin dari Qantara.de. Teks lengkapnya bisa ditemukan di www.qantara.de.

Sumber: Qantara.de, 6 November 2009, www.qantara.de
Telah memperoleh izin untuk publikasi.